Friday, 10 April 2009

Hah! 200 Masjid di Mekah Salah Kiblat?

Beberapa laporan dari Arab Saudi menyebutkan sekitar 200 masjid di kota suci Mekah tidak menghadap ke arah kiblat.

Surat kabar Saudi Gazette melaporkan, orang-orang yang melihat ke bawah dari atas gedung-gedung tinggi yang baru di Makkah menemukan, mihrab di banyak masjid tua Mekah tidak mengarah langsung ke Kabah.

Saat menunaikan salat, warga muslim sedapat mungkin menghadap ke Kabah, bahkan kalau diperlukan, bisa menggunakan kompas khusus untuk mencari arah kiblat itu.

Kabah tersebut terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah.

Wartawan BBC Sebastian Usher menyebutkan, pihak berwenang belakangan melakukan pembangunan kembali kawasan di dan sekitar Masjidil Haram.

Tetapi, masjid-masjid lama di Mekah tetap dipertahankan keberadaannya. Kini bila dilihat dari gedung-gedung tinggi yang baru, sejumlah warga menemukan lokasi mihrab di sebagian masjid tersebut tidak tepat arah.

Pada saat masjid-masjid tersebut dibangun, digunakan perkiraan kasar arah kiblat karena saat itu belum ada alat yang akurat.

Sebagian warga mengatakan ibadah mereka mungkin tidak sah. Seorang pejabat Arab Saudi mengatakan ibadah salat mereka tidak akan terpengaruh.

Sebagian orang menyarankan sinar laser dipancarkan dari kubah Masjidil Haram untuk menunjukkan arah kiblat yang tepat.

taken from:
kontekaja.com

Di Surabaya Ubin Bisa Buat Goreng Telur

Ubin itu ada di rumah Wiwin, 31. Ia mengaku telah menggunakan ubin bersuhu panas itu sejak dua tahun lalu. Namun, baru dua hari terakhir ini, ubinnya semakin memanas. Sehingga, kabar itu membuat warga di sekitar rumahnya langsung memadatinya. Mereka ingin tahu seperti apa jenis ubin itu.

"Panasnya semakin tinggi, sejak turun hujan deras kemarin. Saat daerah sini banjir," kata Wiwin, Jumat (13/3).

Untuk memastikan asal panas ubin, Wiwin juga sempat meminta tolong pada beberapa warga yang mengerti instalasi listrik untuk memeriksanya. "Setelah diperiksa ternyata tidak ada hubungannya dengan aliran listrik," jelasnya.

Kepada wartawan, suami Wiwin, Irvan bahkan sempat mempraktikkan menggoreng telur di atas ubin itu. Dan benar saja, telur itu masak seperti halnya digoreng di atas kompor.

taken from: inilah.com

Kampung Bujang India

KITA mungkin biasa mendengar gelar bujang lapuk untuk pria sudah berumur tapi tak juga berumah tangga. Tetapi di India, perkataan itu lebih bermakna satu kawasan di pedalaman yang berjuluk Kampung Bujang. Pasalnya, Kampung Barwaan Kala, demikian nama kampung itu, dihuni oleh para bujang. Tak ada perempuan di sana.


Kampung Barwaan Kala adalah satu perkampungan terpencil yang terletak di tengah-tengah kawasan bukit bukau dan hutan tebal di Kaimur, wilayah Bihar di utara India.

Lantaran letaknya yang terpencil, kampung ini menjadi terisolasi dari dunia luar. Kawasan ini hanya dikelilingi bukit bukau yang menghijau serta hutan nan sunyi.

Nah, sekitar 120 jiwa penduduk lelaki kampung ini belakangan amat gelisah. Mereka yang sudah berusia 18 tahun, bahkan ada yang 80 tahun hidup membujang. Jelas saja mereka merindukan belaian kasih sayang wanita, sebagai pemping hidup.

Sejatinya, di kampung ini tadinya bukan tak ada wanita. Hanya saja, anak perempuan di sini langsung dikirim ke daerah lain yang lebih ramai, untuk mendapatkan jodoh.

Lantaran tak ada perkawinan di sini, konon, sekitar 50 tahun lalu, lembaga semacam Kantor Urusan Agama (KUA), lembaga yang menangani pernikahan, akhirnya ditutup.

Persoalan kenapa pria di sini membujang, memang bukan karena mereka tak laku. Melainkan karena perkampungan Barwaan Kala hanya dihuni pria dan tempatnya yang terisolasi.

Barwaan Kala hanya dapat dkunjungi melalalui helikopter. Bagi mereka yang sanggup dapat mendatangi tempat ini dengan berjalan kaki. Dari desa terdekat, butuh waktu dua jam, naik turun tebing yang cukup berbahaya untuk mencapai Barwaan Kala. Inilah yang menjadikan para gadis enggan tinggal di sini.

Bila telah berada di luar desa, mereka enggan kembali ke kampung halamannya. Terlalu berisiko untuk masuk wilayah hutan lebat yang banyak jurangnya serta binatang buas itu.

Lantaran masalah inilah penghuni Kampung Bujang bergotong royong membangun jalan yang menghubungkan kampungnya dengan kampung lain agar ada wanita sudi datang ke tempat ini. Jalan yang dibangun rencanangnya sepanjang 6 km. Mereka berharap jalan ini dilalui gadis-gadis pujaan hati. Yah, semacam jalan untuk mencari jodoh.

“Ini memang menyedihkan. Bagaimana lelaki yang cukup syaratnya dan masih bujang, gagal menemukan pasangannya. Bukan hanya istri, wanita pun tak ada di Barwaan Kala,” kata aktivis sosial, Chandrama Singh Yadav kepada seperti dikutip timesonline, belum lama ini.

Chandrama Singh Yadav adalah pekerja sosial yang menganjurkan agar warga di situ membangun jalan. "Saya berharap dengan adanya jalan ini maka lelaki Barwaan Kala mendapatkan istri dari kampung lain."

Proyek jalan raya ini diharapkan selesai dalam dua bulan mendatang. Hanya saja, rencana itu bisa gagal lantaran masalah tanah yang akan dibuat jalan itu ternyata kawasan hutan lindung. Belum lagi masalah ancaman binatang buas macam harimau dan pemberontak komunis yang bersembunyi dalam hutan tersebut.

Laporan terakhir menyebutkan para bujang ini tak putus asa. Mereka bersama-sama bahu membahu mengayunkan cangkul dan peralatan lainnya untuk membangun jalan dambaan mereka itu. Kini jalan itu sudah terbangun sekitar 3 km dan tinggal separohnya lagi.

“Kami akan selesaikan jalan ini agar kami dapat menikah seperti orang lain,” kata salah seorang penduduk, Sheo Karwar, 28 tahun.

Begitulah sulitnya untuk meraih gelar suami di kampung bujang ini. Masih banyak rintangan yang harus mereka hadapi untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Dan, hanya waktulah yang menentukan apakah Kampung Barwaan Kala kelak akan diwarnai derai tawa para pengantin baru.

taken from:
kontekaja.com

Friday, 3 April 2009

Rumah Rehabilitasi Bagi Caleg Gagal


Seorang warga di Purwakarta, Jawa Barat, menyediakan tempat rehabilitasi mental bagi para calon legislatif yang stres karena tidak terpilih dalam pemilu nanti. Rumah rehabilitasi itu berdiri di atas hamparan tanah seluas 26 hektare di Kampung Awi Mekar, Bungur Sari, Purwakarta.

Pemilik rumah, Kastono, selain sengaja menjadikan rumahnya sebagai tempat penampungan juga menyediakan berbagai fasilitas termasuk jasa konsultasi dengan psikiater dan ulama. Untuk biaya rehabilitasi Kastono tidak mempermasalahkannya.

Di Kabupaten Purwakarta, ada 412 caleg yang memperebutkan 45 kursi DPRD. Terbatasnya jumlah kursi menyebabkan mereka harus bersaing keras dengan caleg lainnya. Tekanan inilah yang bisa membuat caleg stres.(IAN/Syamsu Nursyam)

taken from: Liputan6.com

Sopir Bus Trans Jakarta Pingsan


Apa yang dirasakan penumpang jika sopir yang sedang mengemudikan busnya pingsan? Tentu saja panik. Begitulah yang dirasakan penumpang salah satu armada TransJakarta jurusan Blok M - Kota.

Saat sedang asyik menikmati perjalanan, tiba-tiba laju bus sedikit oleng. Penumpang bus favorit warga Jakarta itu pun langsung menjerit-jerit. Panik.

Begitu cerita Dudung, seorang penumpang TransJakarta, kepada detikcom, Kamis (2/4/2009). Menurut karyawan yang berkantor di Jalan MH Thamrin itu, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.45 WIB.

"Waktu bus memasuki bundaran HI, bus yang saya naiki jalannya kurang stabil seperti ada sesuatu yang kurang beres," cerita Dudung.

Namun Dudung dan penumpang lain belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada bus tersebut. Penumpang semakin panik saat bus berwarna merah itu tidak berhenti di halte Sarinah.

"Bus tidak berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Ada sebagian penumpang mengira bus mengalami kerusakan rem," kata Dudung.

Dan tiba-tiba, bus berhenti mendadak di lampu merah Sarinah. Saat itu, para penumpang melihat sopir TransJakarta tersebut semaput. "Saya lihat sopir sudah pingsan, kondektur lalu membuka pintu emergency," kata Dudung.

Dudung dan penumpang lain pun mengelus dada. Banyak yang mengucap syukur karena tidak terjadi kecelakaan yang serius. "Untung tidak ada korban," katanya.

Tak seberapa lama kemudian, datang armada TransJakarta yang lain. Para penumpang pun dialihkan ke bus tersebut. Dudung tidak mengetahui nasib sopir tersebut.

Dari peristiwa itu, Dudung pun berharap pengelola TransJakarta lebih memperhatikan kesehatan para sopirnya. "Serta sistem seleksi pengemudi harus diperketat dari sisi fisik dan kesehatannya. Hal itu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi," harapnya.

detikcom - Kamis, April 2