Showing posts with label Berita Seni Budaya dan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Berita Seni Budaya dan Sastra. Show all posts

Friday, 27 March 2009

Kebudayaan Tari Golek Menak Dari Yogyakarta

Golek Menak


Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan tari Golek Menak berawal dari ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut juga Beksa Golek Menak, atau Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang Golek Menak.

Karena sangat mencintai budaya Wayang Orang maka Sri Sultan merencanakan ingin membuat suatu pagelaran yaitu menampilkan tarian wayang orang. Untuk melaksanakan ide itu Sultan pada tahun 1941 memanggil para pakar tari yang dipimpin oleh K.R.T. Purbaningrat, dibantu oleh K.R.T. Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, K.R.T. Madukusumo, K.R.T. Wiradipraja, K.R.T.Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga dan RW Larassumbaga.

Proses penciptaan dan latihan untuk melaksanakan ide itu memakan waktu cukup lama. Pagelaran perdana dilaksanakan di Kraton pada tahun 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan. Bentuknya masih belum sempurna, karena tata busana masih dalam bentuk gladi resik. Hasil pertama dari ciptaan sultan tersebut mampu menampilkan tipe tiga karakter yaitu :
1. tipe karakter puteri untuk Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli,
2. tipe karakter putra halus untuk Raden Maktal,
3. tipe karakter gagah untuk Prabu Dirgamaruta

Tiga tipe karakter tersebut ditampilkan dalam bentuk dua beksan, yaitu perang antara Dewi Sudarawerti melawan Dewi Sirtupelaeli, serta perang antara Prabu Dirgamaruta melawan Raden Maktal.

Melalui pertemuan-pertemuan, dialog dan sarasehan antara sultan dengan para seniman dan seniwati, maka sultan Hamengku Buwana IX membentuk suatu tim penyempurna tari Golek Menak gaya Yogyakarta. Tim tersebut terdiri dari enam lembaga, yaitu : Siswo Among Beksa, Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Mardawa Budaya, Paguyuban Surya Kencana dan Institut Seni Indonesia (ISI).

Keenam lembaga ini setelah menyatakan kesanggupannya untuk menyempurnakan tari Golek Menak (1 Juni 1988), kemudian menyelenggarakan lokakarya dimasing-masing lembaga, dengan menampilkan hasil garapannya. Giliran pertama jatuh pada siswa Among Beksa pada tanggal 2 Juli 1988.

Lokakarya yang diselenggarakan oleh siwa Among Beksa pimpinan RM Dinusatama diawali dengan pagelaran fragmen lakon kelaswara, dengan menampilkan 12 tipe karakter, yaitu :
1. Alus impur (tokoh Maktal, Ruslan dan Jayakusuma),
2. Alus impur (tokoh Jayengrana),
3. Alur kalang kinantang (Perganji),
4. Gagah kalang kinantang (Kewusnendar, Tamtanus, Kelangjajali, Nursewan dan Gajah Biher),
5. Gagah kambeng (Lamdahur),
6. Gagah bapang (tokoh Umarmaya),
7. Gagah bapang (Umarmadi dan Bestak),
8. Raseksa (Jamum),
9. Puteri (Adaninggar seorang Puteri Cina),
10. Puteri impur (Sudarawerti dan Sirtupelaeli),
11. Puteri kinantang (Ambarsirat, Tasik Wulan Manik lungit, dan kelas wara),
12. Raseksi (mardawa dan Mardawi).

Bahasa yang digunakan dalam dialog adalah bahasa bagongan. Busana yang dikenakan para penari mengacu pada busana Wayang Golek Menak Kayu, semua tokoh berbaju lengan panjang, sedangkan cara berkain menerapkan cara rampekan, kampuhan, cincingan, serta seredan disesuaikan dengan tokoh yang dibawakan.

Giliran kedua jatuh pada Pusat Latihan tari Bagong Kussudiardja diselenggarakan di Padepokan Seni Bagong Kusssudiardja sendiri. Bentuk-bentuk tari yang ditampilkan merupakan garapan baru yang bersumber dari Golek Menak, dengan mempergunakan ragam tari yang pernah dipelajari dari kakaknya, yaitu Kuswaji Kawindrasusanta (seorang peraga Golek Menak pada saat proses penciptaan tari oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX).

Beberapa tipe karakter yang ditampilkan antara alain : puteri luruh, puteri Cina, gagah bapang untuk tokoh Umarmaya, gagah kinantang untuk tokoh Umarmadi. Disamping itu ditampilkan pula sebuah garapan kelompok dari tipe gagah kinantang yang diberi nama tari Perabot Desa, dengan gendhing-gendhing yang digarap sesuai keperluan gerak tari sebagai pengiringnya.

Giliran ketiga jatuh pada Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Yogyakarta, dipimpin oleh Sunartama dan diselenggarakan pada tanggal 30 Juli 1988 S.M.K.I. menitik beratkan pada penggarapan ragam gerak yang merupakan dasar pokok dari tipe-tipe karakter dari Golek Menak dan memperhatikan gendhing-gendhing yang mengiringi tari agar penampilan tipe-tipe karakter bisa lebih kuat. Penyajian dari S.M.K.I. menampilkan tipe karakter dengan 14 ragam gerak berbentuk demonstrasi, tanpa menggunakan lakon, tata busana, tata rias, antawecana, swerta kandha tidak digarap.

Giliran keempat jatuh pada Mardawa Budaya yang menyelenggarakan lokakarya pada tanggal 9 Agustus 1988 dipimpin oleh Raden Wedana Sasmita Mardawa. Mardawa Budaya menampilkan sebuah fragmen singkat tetapi padat dengan lakon Kelaswara Palakrama. Dalam penampilannya Mardawa Budaya menampilkan 14 tipe karakter.

Giliran kelima adalah Surya Kencana pimpinan raden Mas Ywanjana, yang menyelenggarakan lokakarya pada tanggal 15 Agustus 1988. Surya Kencana memilih bentuk demonstrasi dan menampilakan 16 tipe karakter, serta berupaya memasukkan gerak pencak kembang dan silat gaya Sumatera Barat yang disesuaikan dengan rasa gerak Jawa.

Giliran keenam atau terakhir jatuh pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang menyelenggarakan lokakarya pada tanggal 22 Agustus 1988. Lokakarya bertempat di Fakultas Kesenian Kampus Utara, dipimpin oleh Bambang Prahendra Pujaswara, dengan menampilkan 15 tipe karakter dalam demonstrasinya. Demonstrasi tipe-tipe karakter kemudian disusul dengan penampilan sebuah fragmen pendek dengan lakok Geger Mukadam dipetik dari Serat Rengganis.

Para penggarap tari dari ISI Yogyakarta menitik beratkan pada garapan geraknya, iringan tari, tata busana, tata rias serta antawecana. Gerak pencak kembang dari Sumatera barat juga telah dimasukkan, bukan hanya pada adegan perang saja, tapi juga pada ragam-ragam geraknya. Bahasa yang dipergunakan untuk antawecana atau dialog adalah bahasa Jawa pewayangan.

Pada pertemuan pada tanggal 16 September 1988 dia Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta, sultan menyatakan kegembiraannya, bahwa enam lembaga tari di DIY telah menanggapi dengan baik permintaan sultan. Karena hasil lokakarya itu baru merupkan hasil awal dari proses penyempurnaan tari Golek Menak, sultan mengharapkan agar segmen disusul dengan rencana kerja kedua, yaitu pada bulan Maret 1989.

Tetapi sebelum sultan sempat menyaksikan kerja kedua dari Tim Penyempurnaan Tari Golek Menak yang akan jatuh pada bulan Maret 1989, sultan mangkat di Amerika Serikat pada tanggal 3 Oktober 1988. Beberapa minggu kemudian seluruh anggota Tim sepakat untuk meneruskan penyempurnaan tari Golek Menak, meskipun sultan telah tiada. Maka dalam pagelaran hasil penyempurnaan tari Golek Menak tanggal 17 Maret 1989 itu ditampilkan demonstrasi Wayang Golek Menak serta fragmen dramatari Golek Menak dengan cerita yang sama, yaitu kelaswara palakrama atau perkawinan antara kelaswara dengan Wong Agung Jayengrana.

Tim penyempurnaan tari Golek Menak bekerja sesuai dengan petunjuk-petujuk sultan. Tetapi karena perancangan tata busana seperti yang diinginkan sultan menuntut biaya yang besar, maka tata busana untuk pagelaran itu masih menggunakan busana yang telah ada dengan tambahan serta modifikasi seperlunya.

Ditulis oleh: Ani Nurdwiyanti 
kontributor swaberita dan dapat dihubungi di ani.nurdwiyanti@swaberita.com
taken from: swaberita.com

Pagelaran Tari Garapan Pelajar SMKI Jogjakarta

Mendut dan Urubhisma Lena

Pagelaran tari garapan dalam artikel ini adalah sebuah pementasan tari yang diproduksi siswa dan siswi kelas tiga program keahlian tari SMK N 1 Kasihan Bantul (SMKI Jogjakarta). Pementasan semacam ini, yang tahun ini kebetulan dilaksanakan selama dua malam berturut-turut yaitu pada tanggal 25-26 Maret 2009, digelar secara rutin oleh pihak sekolah. Seperti diutarakan Ibu Sri Wahyuningsih S.Pd selaku Kepala Program Keahlian Tari SMK N 1 Kasihan Bantul dalam sambutannya, “Uji kompetensi pada mata pelajaran pementasan merupakan tolak ukur sejauh mana kemampuan siswa menguasai kompetensinya sebagai seorang penari, penata tari dan pengelola pertunjukan”. Selain itu ujian pementasan juga menjadi salah satu syarat kelulusan bagi siswa-siswi di sekolah tersebut.


Menginjak pada segmen pementasan, hal pertama yang patut kita acungi jempol adalah bagaimana bisa suatu acara semegah ini dikelola dan dilakoni siswa-siswi secara mandiri. Mulai dari penggarapan materi pementasan hingga mencari sponsor mereka lakukan sendiri, guru disini hanya berperan sebagai pengawas dan penasehat saja. Hal kedua yang perlu kita soroti adalah betapa pedulinya mereka terhadap seni dan budaya tradisional yang sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh kaum muda seusia mereka. Ditengah godaan kemajuan teknologi dan perkembangan dunia hiburan saat ini mereka rela berjalan walau tertatih mengembangkan budaya asli mereka, dalam hal ini tari khususnya. Hal-hal semacam inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah khususnya pejabat di bidang-bidang terkait

Pementasan tahun ini menampilkan dua cerita, pementasan hari pertama berjudul Mendut. Diangkat dari cerita trdisional bejudul Rara Mendut. Pementasan ini digawangi oleh pelajar dari kelas 3 Tari A dan diiringi dengan musik atau gendhing racikan pelajar dari kelas 3 Tari B. Pementasan hari kedua juga tidak kalah hebatnya, seolah-olah tak mau kalah dengan rekan sejawatnya dari kelas 3 Tari A, para pelajar kelas 3 Tari B menampilkan lakon berjudul Urubhisma Lena. Musik atau gendhing yang terdengar indah selama pementasan diracik oleh para pelajar dari kelas 3 Tari A. Sebuah kerjasama yang apik mengingat mereka masih berusia muda dimana pada umumnya identik dengan persaingan, yang terkadang kurang sehat.

Terakhir, semoga pementasan ini tidak menjadi muara bagi mereka dalam dunia seni, tetapi justru dianggap sebagai hulu bagi mereka. Setelah para pelajar berbakat ini melepas seragam pelajar mereka, dunia yang “sesungguhnya” sudah menanti. Selamat dan sukses buat semua yang terlibat dalam pementasan kali ini.

Sinopsis

Mendut

Sebuah kisah cinta yang menggetarkan. Setelah kematian Pragola, Menrut diperkosa dan dibawa ke Katemanggungan oleh Wiroguno. Berulang kali Wiroguno berusaha membuat Mendut mencintainya, segala upaya telah dilakukan namun hasilnya nihil. Hati dan pikiran Mendut sudah terbakar api dendam, dan kebencian juga sudah tertanam dalam di jiwanya.
Tetapi entah mengapa tiba-tiba Mendut yang sudah jatuh hati pada pria lain bernama Panacitra, dengan manjanya merengek-rengek pada Wiruguno agar ia dibuatkan sebuah pasar. Ternyata, hal itu hanya alasan mendut agar dapat selalu bejumpa dengan Pranacitra. Hingga pada suatu saat mereka bena-benar jatuh cinta dan berkomitmen untuk selalu bersama dalam kondisi apapun. Mengetahui hal ini, amarah Wiroguno memuncak. Wiroguno akhirnya membunuh Pranacitra, hal ini diketahui Mendut. Akhirnya, demi menjaga komitmen yang sudah mereka buat dan membuktikan cintanya pada Pranacitra, Mendut pun mengakhiri hidupnya dengan cara menghunuskan keris yang dapakai Wiroguno untuk membunuh Pranacitra ke perutnya sendiri. 

Urubhisma Lena

Suatu ketika, Sang Ratu Ayu Kencana Wungu memerintahkan Damarwulan untuk menyelamatkan Majapahit. Tanpa berpikir panjang, setelah berpamitan dengan Anjasmara istrinya, Damarwulan berangkat mempertaruhkan nyawanya menuju Blambangan. Sebuah daerah yang memberontak dari kekuasaan Majapahit.
Sesampainya di Blambangan, Damarwulan bertarung dengan Urubhisma Adipati Blambangan. Ia memang buruk rupa, tapi kemampuan bertarungnya sungguh luar biasa. Damarwulan hampir saja kehilangan nyawa menghadapinya. Untungnya, ia diselamatkan Wahita dan Puyengan. Kedua orang ini jugalah yang berhasil mencuri dan menyerahkan Gada Wesi Kuning, yang merupakan senjata andalan Urubhisma, kepada Damarwulan. Mengetahui hal ini Urubhisma sangat terkejut.
Akhirnya, Damarwulan berhasil memenggal kepala Urubhisma dan menguasai kembali daerah Blambangan.

ditulis oleh: sedik

nb: foto-foto menyusul, just wait and see...

Seni Banyumasan

Memudar di Tengah Kepungan Budaya Kota

Adoh ratu cedhak watu, jauh dari raja dekat dengan batu. Kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan eksistensi Banyumas atau wong Banyumas. Secara politik, tak pernah ada raja yang berkeraton di wilayah yang dikelilingi pegunungan ini, yang ada hanya adipati.

Banyumas —sekarang kabupaten di Jawa Tengah— menjadi sebuah daerah perdikan dan negeri ”mancanegara”, baik pada masa Majapahit dan Mataram (Jawa) maupun Padjadjaran (Sunda). Kondisi tersebut membuat wong Banyumas berkesempatan mengembangkan budaya sendiri yang khas dan unik.

Satu unsur budaya yang lekat di masyarakat Banyumas dan masih bertahan hingga kini adalah dialek bahasa ngapak-nya. Konon, dialek ngapak ini adalah bahasa Jawa murni atau bahasa Jawadwipa.

Banyumas juga kaya akan kesenian khas, seperti ebeg, cowongan, lengger, genjringan, ujungan, udhun-udhunan, begalan, memedi sawah, dan kentongan. Seni-seni tersebut agak berbeda dengan seni budaya yang berkembang di Jawa maupun Sunda.

Namun, derasnya pengaruh modernisme kini mulai mengikis eksistensi budaya-budaya lokal tersebut. Pentas lengger, ebeg, dan kenthongan kini mulai jarang terlihat. Kelompok-kelompok seni tradisional pun mulai terpinggirkan.

Sebaliknya, sajian budaya modern, seperti konser musik pop, rock, dangdut, pentas disc jockey, hingga sajian sexy dancer dapat dinikmati hampir setiap minggu di kota ini. Kondisi tersebut seiring maraknya tempat hiburan modern, mulai kafe, diskotek, pub, hingga rumah karaoke.

Hingga tahun 1970-an dan sampai 1980-an, hampir setiap desa di Banyumas memiliki kelompok seni, khususnya kenthongan dan lengger. Mereka secara berkala tampil dalam berbagai kesempatan, seperti perayaan pernikahan, hari besar, hingga merti desa.

Seni, seperti ebeg, kenthongan, cowongan, dan lengger, bagi wong Banyumas kala itu bukan sekadar pentas hiburan, melainkan sebuah tradisi yang menyatukan mereka dengan jati diri mereka sebagai orang Banyumas. Maka tak heran, di masa jayanya, mementaskan kesenian tradisional seakan menjadi kebutuhan warga Banyumas di sela menggelar hajatan, seperti pernikahan, sunatan, atau panen.

Saeran Samsidi, budayawan Banyumas, mengungkapkan, dahulu setiap desa di Banyumas mempunyai kekhasan sendiri terkait tumbuh kembangnya seni tradisional. Ada daerah yang dikenal memiliki budaya kelompok seni ebeg dan lengger. Ada daerah yang dikenal memiliki kelompok seni cowongan yang bagus.

Tak lagi dijumpai

Namun, kini kondisi tersebut tak lagi dijumpai. Kalaupun ada kelompok seni yang masih bertahan, kondisinya kembang kempis. Mereka sekadar bertahan agar seni yang mereka warisi dari leluhur tak punah sama sekali. Kadang hanya sekali dalam setahun mereka pentas.

”Kondisi ini terjadi sejak budaya televisi masuk. Pengaruh global yang hadir dari televisi membuat masyarakat lebih memilih budaya modern. Filsafat budaya lokal pun hilang terlupakan,” ujar Saeran.

Seni budaya lokal pun seolah berjalan dengan lokomotif tua, sementara budaya modern hadir dengan lokomotif superekspres yang ingar-bingar dan menjanjikan ”kekotaan”.

Perumpamaan itu tak berlebihan, para pelaku budaya tradisional di Banyumas kini kebanyakan generasi tua. Sebagai contoh, penggiat seni cowongan di Desa Somagede. Dari sekitar delapan orang yang dikenal sebagai dedengkot cowongan di desa itu, semuanya adalah nenek dengan usia di atas 55 tahun.

Penggiat seni cowongan Banyumas, Titut Edi Purwanto, menuturkan, sebelum pengaruh budaya televisi masuk di Banyumas, hampir setiap desa di wilayah ini memiliki kelompok seni cowongan . Umumnya, mereka adalah perempuan. Cowongan adalah seni tradisional untuk memanggil hujan pada saat musim kemarau. Pementasan biasanya dilakukan saat musim tanam tiba. Seni ini dahulu dapat tumbuh subur di Banyumas karena sesuai dengan karakteristik masyarakat daerah tersebut yang agraris.

Kenyataannya, kini seni cowongan hanya dapat ditemui di Desa Somagede. Itu pun setahun sekali dan pementasannya dilakukan oleh para nini cowong yang sudah nenek-nenek.

”Regenerasi memang menjadi persoalan. Anak muda banyak yang kurang tertarik. Sebenarnya, seni cowongan ini menarik karena unik, hanya saja memerlukan polesan agar menarik generasi muda masa kini. Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita semua,” papar Titut.

Upaya modifikasi cowongan tersebut yang kini terus diupayakan Titut melalui kelompok cowongan Syeh Gugat. Beberapa bagian pentas cowongan yang abstrak dibumbui dengan sajian- sajian baru, seperti penampilan genderuwo, tarian, dan musik. Langkah Titut tersebut membuat seni cowongan mulai dilirik lagi. Terbukti saat pertunjukan seni ini di Gedung Kesenian Banyumas baru-baru ini dihadiri 600 orang. Sesuatu yang jarang terjadi dalam pentas seni tradisional di Banyumas, yang sering kali hanya ditonton belasan sampai puluhan orang.

Upaya mempertahankan budaya lokal sebenarnya juga mulai dilakukan sejumlah penggiat seni tradisional lainnya di Banyumas. Hal ini seperti dilakukan Cu`eng Tato dengan teater tradisionalnya dan Johny dengan begalan-nya. Namun, dana menjadi kendala klasik yang selalu mereka alami.

Perhatian pemerintah

Perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas terhadap pengembangan seni lokal ini dinilai masih belum kelihatan.

Bahkan, pada tahun 2008, anggaran rutin Rp 150 juta untuk pengembangan kegiatan seni tak dikucurkan karena pemkab lebih berkonsentrasi membangun proyek fisik semacam Alun-alun Banyumas.

Dinas Pendidikan Banyumas pun belum memasukkan kesenian tradisional sebagai sebuah menu ekstrakurikuler apalagi salah satu bidang ajar. Tak pelak, upaya memperkenalkan seni budaya lokal ke generasi muda pun makin sulit.

Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, Dahlar Sodiq, mengatakan, keterpurukan seni tradisional Banyumas merupakan salah satu contoh gempuran globalisasi yang sulit dihindari budaya lokal. Kondisi ini mulai terjadi sejak pembangunan besar-besaran pada masa Orde Baru yang lebih mengutamakan pembangunan fisik daripada budaya.

Selain itu, hadirnya pendatang ke Purwokerto juga berpengaruh terhadap eksistensi budaya lokal. Mereka membawa budaya luar yang kemudian memengaruhi budaya lokal. Maraknya budaya nongkrong di kafe di masyarakat Purwokerto dalam beberapa tahun terakhir adalah salah satu contohnya.

”Sebenarnya ada upaya resistensi dari kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan budaya lokal dari kepungan budaya kota semacam ini. Seharusnya mereka harus terus didukung. Pemerintah juga harus berperan lebih aktif,” kata dia.

ditulis oleh: M. Burhanudin

taken from: Melayuonline.com

Wednesday, 25 March 2009

Makanan Tradisional Soto Padang

Soto Padang
Bahan:

* 1 lb daging sapi (beef round)
* 2 baking potato goreng, potong kecil2
* 1 bungkus soun, rendam air panas sebentar
* daun seledri, iris halus
* bawang goreng
* kecap asin dan cuka secukupnya
* 2 lembar daun salam
* garam dan lada secukupnya

Bumbu yang dihaluskan:

* 1/2 medium onion
* 5 siung bawang putih
* 2 butir pala
* sambal oelek sepedasnya

Cara membuat:

1. Potong daging setebal 1 inch.
2. Rebus daging dalam air secukupnya beserta daun salam dan garam sampai setengah matang.
3. Sementara panaskan 2 sendok makan minyak, tumis bumbu yang sudah dihaluskan sampai baunya harum. Masukkan tumisan ini kedalam panci daging dan masak terus sampai daging matang. Kalau airnya berkurang bisa ditambahkan air secukupnya.
4. Angkat daging kemudian goreng sampai kering (dengan api kecil).

Menghidangkannya:

1. Atur soun, kentang, daging goreng yang sudah dipotong tipis, seledri dan bawang goreng di dalam mangkuk.
2. Beri kecap asin dan cuka kemudian siram dengan kuah soto yang
hangat.
3. Dimakan dgn nasi hangat yg ditaburi kerupuk merah dan
bawang goreng.

Bumbu halus

* 5 buah bawang merah.
* 3 siung bawang putih.
* 4 buah cabai merah, buang bijinya.
* ½ sdm bubuk kunyit.
* 4 butir kapulaga.
* 1 sdt jinten, sangrai.
* 1 sdt lada butir.

Pelengkap

* Emping goreng.
* Acar mentimun.

Cara membuat

1. Tumis bawang merah iris, bawang putih iris dan bumbu halus hingga harum. Masukkan daging, aduk dan masak hingga daging berubah warna. Lalu tambahkan udang dan tomat, aduk rata.
2. Masukkan kaldu, seledri, daun bawang, garam dan cuka. Masak hingga daging matang dan air berkurang sambil sesekali diaduk.
3. Masukkan kol dan tauge, aduk rata. Kemudian tambahkan mi dan kecap manis. Aduk hingga semua bahan tercampur rata dan matang. Angkat.
4. Sajikan panas-panas dengan acar mentimun dan emping goreng.

Selamat mencoba,..

taken from:
yahoo answers

Jogja Tempoe Doeloe in Frame part 1

Lampau

Masa lalu selalu indah
Takkan terulang
Takkan terlupakan


Tari Beksan Bobondoyo


Alun-alun Utara tahun 1895


Alun-alun Kidul tahun 1920


Alun-alun Kidul


Menjamu Tamu,pada masa Sri Sultan HB VIII



taken from many sources

Permainan Tradisional Congklak (Dakon)


Congklak (Dakon)

Permainan congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastik berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Diantar keduanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya berdiameter kira-kira 5 cm. Setiap deret berjumlah 7 buah lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut diisi dengan kerang atau biji-bijian sebanyak 7 buah.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan, jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang induk miliknya. Permainan ini merupakan sarana untuk mengatur strategi dan kecermatan.

Sunday, 22 March 2009

Nasibmu Oh...Ketoprak..

Never Ending Ketoprak [alias Seret Generasi]

Kesenian Indonesia acap membuat logika bahasa bersalto ria entah ke mana… Contohnya ini, meskipun digandrungi oleh masyarakat Yogyakarta baik desa dan kota, ketoprak masih dianggap perlu untuk dilestarikan, dijaga keberadaanya, dikembangkan, dan lain bahasa yang mengumpamakan bahwa sejatinya ketoprak tidak sepenuhnya digandrungi. Karena jika digandrungi oleh masyarakat, maka tiadalah perlu dikhawatirkan, dilindungi dalam rangka suaka, atau disertifikasi agar nyata berada.

Namun inilah kenyataan yang dihadapi keseniang yang di ‘gandrungi’ ini. Bondan Nusantara, tokoh ketoprak termasuk yang khawatir bahwa ketoprak akan punah. Karena kesenian yang digandrungi ini sudah kehilangan panggung permanen [tobong] seperti halnya era 60-an 80-an. Pada era tersebut kita bisa menyebut beberapa grup ketoprak yang nobong, antara lain, Ringin Dahana, Kridha Mardi, Sapta Mandala, PS Bayu Gito-Gati dan Sinar Mataram, serta Padmanaba. Akhir 1980-an, Ketoprak Surya Budaya pimpinan aktor Widayat main di Panggung bekas THR [sekarang Purawisata], namun tidak setiap hari.

Hilangnya tobong ketoprak menjadikan para pelaku ketoprak kehilangan media untuk berekspresi, sedangkan para pelaku muda ketoprak kehilangan peluang untuk belajar dan praktik langsung. Harus diakui, tobong ketoprak merupakan “universitas” sekaligus pasar. Di sini, orang digodok kemampuannya sekaligus “menjual” jasa kreatifnya

Belum lagi tradisi dunia ketoprak itu sendiri yang menggunakan sistem bintang atau pemain yang sudah jadi. Orientasi pada hasil dan bukan pada proses ini juga disebabkan tradisi komersial tanggapan [undangan main]. Memasang pemain-pemain muda dianggap pilihan yang riskan. Jika hasilnya kurang memuaskan, si penanggap akan kecewa. Kini, ketika belum ada media panggung yang secara permanen menyajikan ketoprak, tradisi festival diharapkan bisa melakukan regenerasi.

Berangkat dari hal diatas itulah Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY diselenggarakan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian kethoprak. Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya, peserta dipilih oleh pihak Pemkab/Pemkot yang ada, namun tahun ini peserta lomba melalui tahapan festival antar kecamatan dahulu. Setelah mampu dilolos ditingkat Kabupaten/Kota, peserta yang juara maju untuk mewakili di tingkat propinsi.

Selain itu Pihak Taman Budaya Yogyakarta, selaku panitia pelaksana, akan menghadirkan beberapa nara sumber termasuk Bondan Nusantara, M. Sugiharto, Mardjijo, Drs. Untung Mulyono, dan Y. Subowo. Adapun dewan juri yang akan menilai nanti Ign. Wahono [Seniman Kethoprak], Indra Tranggono [Budayawan], Drs. Trustho, M.Hum [Seniman Karawitan], Nanang Arizona, S.Sn [Dosen ISI], Hanindawan [Teaterwan Solo].

Pelaksaan festival itu sendiri, bertempat di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, direncanakan akan dimulai 18 November 2008, dan berakhir pada 20 November 2008, dari pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai. Dengan demikian, diharapkan apabila kesenian ini akan selalu ada dan tetap digandrungi. Never Ending, begitu kiranya dalam bahasa Inggris sana.

Oleh Ferren Bianca
Taken from:
http://beritaseni.com

Ketoprak Jogja

Ketoprak, Portal Budaya Jogja

Ketoprak sebagai salah satu seni tradisional khas Yogyakarta, ternyata tidak mendapat perhatian memadai dari pemerintah setempat. Festival ketoprak antarkabupaten/kota maupun antarmahasiswa yang pernah secara rutin dilakukan beberapa tahun lalu, kini tiada lagi.

Boro-boro ada dana stimulan untuk grup yang masih eksis, yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah daerah (pemda) semakin gigih menarik pajak tontonan yang memberatkan seniman. Yang lebih paradoksal, ketika hasil penjualan tiket pertunjukan ketoprak dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) relatif besar, panitia meminta dua pertiganya untuk menopang biaya pertunjukan kesenian lain yang berlabel "modern".

Terdapat setidaknya tiga penjelasan mengapa pemerintah setempat bersikap demikian. Pertama, eforia dan kadangkala pemahaman otonomi daerah membuat pemda amat terpaku pada upaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) yang secara picik diterjemahkan dengan menarik pajak seserakah mungkin. Belum lama beredar berita bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta merencanakan menarik pajak atas reklame dalam ruang, antara lain yang berbentuk spanduk seminar komersial. Petugas Dinas Pendapatan Daerah Sleman juga tidak kalah semangatnya sehingga rela menerjang hujan pada malam sebuah pertunjukan yang ternyata sepi penonton.

Bukankah semestinya otonomi daerah dipahami lebih sebagai kepercayaan dan kebebasan untuk mengurus, memajukan, memakmurkan, dan menyejahterakan rakyat seutuhnya? Jika demikian, konsep pembangunan Orba yang menempatkan "ekonomi sebagai panglima" perlu direvisi. Selain karena terbukti gagal, semangat reformasi adalah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat termasuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemasyarakatan setempat. Artinya, mengembalikan hak rakyat untuk berekspresi menyalurkan aspirasi sesuai cara masing-masing dan bukan membungkam atau menyeragamkan demi tujuan (ekonomi) yang digagas hanya oleh pemerintah.

Kedua, sikap gamang menjalankan otonomi ditambah minimnya anggaran membuat pemda "tidak sempat" memikirkan kesenian (apalagi tradisional) dan kebudayaan pada umumnya. Rebutan jabatan, ruwetnya mengatur pegawai yang melimpah, dan minimnya anggaran telah menguras energi mereka.

Ketiga, stigma bahwa ketoprak adalah seninya wong cilik rupanya masih berkecamuk dalam benak banyak pejabat. Buktinya, belum pernah jamuan resmi atau penyambutan tamu yang menampilkan dan menyebut ketoprak sebagai seni khas Yogyakarta. Peristiwa pementasan ketoprak di lingkungan keraton juga masih dapat dihitung dengan jari satu tangan. Bandingkan dengan pementasan wayang dan tari yang notabene sulit diklaim sebagai seni khas Jogja.

Padahal, ketoprak memiliki potensi besar untuk menjadi semacam portal (dalam dunia Internet) bagi kebudayaan Jogja. Sekali melihat pertunjukannya, orang dapat segera paham khazanah budaya Jogja dan Jawa pada umumnya, bukan hanya pada wujud wadhag (fisik) melainkan juga nuansa, spirit, dan bahkan rohnya.

Secara wadhag ketoprak dapat mempertunjukan beberapa hal, yaitu: tata busana Jawa, bangunan dan penataan ruang, perabotan rumah dan aksesori interior, sistem transportasi, dan perlengkapan persenjataan.

Sementara itu kandungan kebudayaan dalam wujud tidak sekadar fisik (nir kasat mata) antara lain tradisi berbahasa, bentuk-bentuk komunikasi nonverbal, pesan sastra dari lakon yang dipertunjukkan, ketoprak sebagai "opera Jawa", dan obyek kajian lain ialah seni tembang dan kerawitan, sebagai pengiring pertunjukan. Yang terakhir, adegan peperangan (massal) bisa menunjukkan ragam strategi perang tradisional (garuda ngleyang, supit urang, glathik neba). Di samping itu, adegan perkelahian (satu lawan satu) dapat menggambarkan benyaknya perguruan bela diri, khususnya pencak silat, berikut ragam jurus yang ada. Belum lagi, bermacam ajian kesaktian yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Jawa.

Dengan berbagai potensi yang dimilikinya itu ketoprak layak diposisikan sebagai gerbang atau etalase kebudayaan Jogja. Dalam sekali penampilannya, pemda dapat mengekspos banyak aspek kehidupan sekaligus promosi banyak komoditas pariwisata.

Saptopo B Ilkodar Anggota Dagelan Mataram Baru, dan dosen Fisip UPN Veteran Yogyakarta.

Taken from:
Harian KOMPAS, Jawa Tengah, Rabu, 24 April 2002

Sastrawan...

Sastrawan, Riwayatmu Kini...

Bagai Jamur di Musim Hujan, pertumbuhan sastrawan pun menggeliat. Tepatnya sastrawan telah berdispora, memenuhi ruang-ruang hati penikmat sastra. Bukan hanya di Ibu kota, tapi hampir di seluruh pelosok negri. Sebut saja di kota Medan yang katanya sudah menjadi kota Metropolitan ini.

Munculnya sastrawan-sastrawan baru tak dibatasi oleh usia maupun gender. Suatu saat jika bertandang ke Taman Budaya, di sana kita akan menemukan individu atau kelompok orang yang saling berbagi tentang kecintaan yang sama terhadap dunia Sastra. Mereka hanya sebagian kecil dari sastrawan Sumatera Utara. Masih banyak sastrawan-satrawan lain yang menelorkan karya sastra dalam kesendirian baik dalam bentuk puisi maupun cerpen.

Tolak ukur dari kesuksesan dan legalitas seorang sastrawan, terkait dengan “frekuensi dan kualitas muat” dari karya-karya mereka, khususnya pada media-media cetak, baik lokal mau pun nasional. Ada apa dengan sastra koran di tahun 2009 ini? Benarkah sastra koran hampir usai?(sesuai dengan kalimat Budi P Hetees pada Rebana Harian Analisa, minggu 1 Februari 2009).

Suatu kondisi yang dilematis memang. Ketika para sastrawan menggeliat, koran-koran besar malah menutup ruang yang tersedia untuk memuat buah-buah karya daripara sastrawan lintas generasi. Bagaimana selanjutnya? Haruskah para sastrawan itu menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan untuk menutupi kenyataan, dia tak lagi seorang sastrawan? Ataukah berhenti mendengarkan setiap denyut jantungnya, yang selalu mengalirkan darah sastra ke seluruh pembuluh darahnya?

Kecintaan pada dunia sastra, harusnya tak pudar oleh ditutupnya ruang-ruang sastra pada Media Indonesia, Republika, dan koran-koran lain yang telah dan akan menutup diri untuk sastra dengan alasan manajerial dan bisnis. Tidak perlu bertanya mengapa dan kenapa bisnis menjadi hal yang utama dalam segala aspek, sebab itu memang sudah menjadi hukum ekonomi yang tidak bisa diingkari.

Kondisi seperti ini, seharusnya disikapi dengan baik oleh sastrawan. Tepatnya di terima dengan legowo (meski sempat kecewa). Kita bisa melihat perkembangan sastra dari sisi lain. Sastra Koran memang menjadi media yang paling efektif digunakan oleh sastrawan untuk menunjukkan eksistensi dan kecintaan terhadap dunia tulis menulis yang digawangi oleh unsur budaya. Masih ada bidang lain yang bisa dirambah dengan tetap memperlihatkan cita rasa sastra yang legit. Salah satunya adalah dengan menulis novel atau buku antologi bergenre sastra.

Tidak sedikit rekan-rekan sastrawan kita, mendulang sukses dari novel bergenre sastra. Sebut saja pemuda asal Belitong Andrea Hirata dengan tetraloginya. Bahkan Laskar Pelanginya konon terjual secara best seller, menukik bersama kisah sukses film bertajuk sama, Laskar Pelangi.

Ada lagi Habibburahman atau Kang Abik dengan Ayat-Ayat Cinta yang mendulang sukses baik novel dan film nya. kemudian Ketika Cinta Bertasbih juga laris manis. Kini sedang digarap menjadi sebuah film. Diharapkan mencicipi madu yang sama dengan Ayat-ayat Cinta.

Itu masih segelintir dari banyak kesuksesan. Masih ada Helvy Tiana Rosa, NH. Dini, Pipit Senja dan Tuti Senja yang lebih pantas kita sebut Bunda Satra Indonesia. Tokoh lain yang layak diperhitungkan di jagad sastra novel ada Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dewi Lestari. Ketiganya adalah sebagian kecil dari Srikandi Sastra Indonesia yang sukses dengan novel-novelnya.

Dunia internasional, juga kini tak lepas dari kesuksesan karya sastra. Tersebut kisah seorang Vampir yang jatuh cinta dalam film Twilight, diangkat dari novel sastra laris berjudul sama yang kini sedang di putar di bioskop-bioskop tanah air. J. K. Rowling sendiri ketika menulis serial Harry potter yang super sukses, tetap berpalung pada genre sastra. Ada lagi kesuksesan peraih nobel sastra dunia Orhan Pamuk dengan novelnya berjudul My Name is Red.

Sastrawan tak akan lekang oleh waktu, zaman, apalagi hanya oleh diclosingnya ruang sastra pada beberapa media cetak. Tak tertutup kemungkinan kalau kelak -yang sudah dimulai- kecenderungan karya-karya sastralah yang layak dijadikan menjadi sebuah skenario layar lebar. Kita akan menjadi sastrawan-sastrawan yang menorehkan pena di dalamnya.

Memang tidak dapat dipungkiri, menuliskan karya sastra dalam bentuk novel, memiliki tingkat kesulitan berbeda dengan menghasilkan karya sastra dalam bentuk koran. Sulit, bukan berarti tidak bisa. Kesulitan itu akan terbayar dengan tingkat kepuasan dan kebahagiaan seorang sastrawan. Di samping itu, bentuk karya dalam bentuk buku atau novel, tentu lebih dijamin keabadiaanya. Karena tak usai ketika koran itu usai di baca.

Semuanya itu, akan dapat terwujud jika kita mau bermetamorfosis. Bermetamorfosis menuju ciri sastra yang up to date. Karya sastra yang tetap mengusung nilai- nilai luhur dan irama serta warna milik sastrawan era 50-an, 60-an hingga 90-an. Kini kita adalah saksi zaman di era 2000-an yang memberikan kesaksian pda zamannya. Memberikan warisan tentang kondisi sekarang, terhadap generasi mendatang.

Sastra adalah sebuah disiplin ilmu. Berkembang sesuai zaman dan peruntukannya. Berpegang teguh pada aturan-aturan yang tak kaku. Bersifat elastis sesuai dengan tuntutan zaman. Penikmat karya sastra masa kini, tentu bukan lagi mereka yang hidup pada zaman Chairil Anwar, Sultan Takdir Alisjahbana, ataupun para sesepuh sastra yang lain. Kini kita hidup pada zaman dimana para penikmat sastra menginginkan suguhan karya sastra, diracik dengan resep sastra standar, tapi dengan bumbu masa kini. Sebab itu belajar dan terus belajar adalah jenjang upaya untuk sebuah proses pencapaian menjadi seorang sastrawan sejati.

Sebenarnya karya sastra juga dapat dijadikan sarana sumber informasi yang akurat, tentang kondisi yang sedang terjadi saat ini. Bahkan lebih dari itu, dapat digunakan sebagai sarana sumbangsih kita terhadap Ibu pertiwi. Misalnya karya sastra yang didalamnya berkisah tentang kondisi pemanasan global (global warming), meluasnya peredaran narkoba, berjangkitnya virus HIV, krisis ekonomi global, perkembangan teknologi informasi atau bidang-bidang lain. Untuk itu, seorang satrawan harus mengup date diri nya sendiri.

Dengan semua kondisi ini, sebenarnya kita masih tetap menaruh harapan besar pada sastra Koran. Baik yang masih menyediakan ruang untuk sastra (seperti Rebana pada harian Analisa) maupun koran-koran lain. Bahkan kalau bisa jujur, kita masih berharap kalau koran-koran yang sudah meniadakan ruang sastra akan “menyadari kekeliruannya” dan menghadirkan kembali ruang sastra dalam terbitannya.

Alangkah indahnya, andai sastra koran (sastra oplah) dan sastra novel (sastra eksemplar) dapat sama-sama berdispora. Semoga. Andai pun tidak, sastrawan abadi akan tetap berdispora. Saling bergandengan tangan. Bersatu dan saling berbagi ilmu. Dengan demikian tak perlu kita berdendang dengan irama tembang lawas tersohor Bengawan Solo milik Gesang yang liriknya kita gubah dengan “Sastrawan, riwayatmu kini…”

Sebab sastrawan, tidak akan sekedar riwayat, tetapi sebagai sekelompok orang yang tetap berkarya, dulu, sekarang dan nanti.

Oleh : Butet Benny Manurung
Taken From:
http://www.analisadaily.com

Karya Sastra Langka


Novel Sastra Langka Laku 2 Milyar

Novel sastra edisi pertama yang jarang didapat karya Emily Bronte, Wuthering Heights, terjual pada perlelangan seharga £114.000 - lebih dari dua kali harga perkiraan atau setara kurang lebih 2 milyar [1 GBP = 19.145, 114.000 x 19145 = 2.182.530.000].

Buku edisi tahun 1847 tentang kisah cinta tragis dua tokoh Bronte diperkirakan terjual antara £30.000 dan £50.000.

Juru bicara rumah lelang Bonhams mengatakan novel itu dibeli oleh seorang pembeli yang tidak diungkapkan namanya dan akan tetap disimpan di Inggris.

Buku itu - satu-satunya novel karya Emily Bronte - pertama kali diterbitkan dengan menggunakan nama alias pria, Ellis Bell.

Bronte - yang meninggal akibat tuberkulosis (TBC) pada tahun 1848 di usia 30 tahun - menggunakan nama pena itu karena dia khawatir pembeli akan menjauhi karyanya karena dia adalah penulis perempuan.

Novel itu mengilhami sejumlah versi layar lebar dan televisi, serta lagu terkenal dari penyanyi Kate Bush yang dirilis pada tahun 1978.

Pemilik buku itu sebelumnya, Anne Reid, diberikan buku itu ketika kecil oleh kakeknya. Novel Bronte ini sudah selama empat generasi disimpan oleh keluarganya.

Reid, mahasiswi di Akademi Seni London, berniat menggunakan uang hasil penjualan buku tersebut untuk mencapai impiannya untuk menjadi seorang seniman.

taken from:
http://www.rileks.com

Shakespeare?!?!?!


Siapa penulis asli Shakespeare?


Hampir 300 orang telah menandatangani "deklarasi keraguan yang beralasan", yang mereka harap akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang isu ini.

"Saya percaya dengan teori yang mengatakan karya-karya itu adalah kolaborasi sekelompok orang. Saya tidak yakin satu orang saja mampu melakukannya," kata Sir Derek Jacobi.

Mereka mengatakan tidak ada catatan bahwa Shakespeare menerima bayaran atas karya-karyanya.

Sementara dokumen-dokumen yang ada tentang Shakespeare, yang dilahirkan di kota Stratford-upon-Avon pada tahun 1564, tidak membuktikan bahwa dia seorang penulis.

Khususnya surat wasiat yang dia tulis, yang meninggalkan istrinya "tempat tidur nomor dua terbaik saya dengan perabotan", dan tidak berisi kalimat-kalimat indah yang membuat dia terkenal dan tidak juga menyebut buku, naskah drama atau puisi karyanya.

Keluarga buta huruf

Shakespeare Authorship Coalition yang beranggotakan 287 orang mengatakan drama-drama Shakespeare yang banyak menampilkan rincian tentang hukum tidak mungkin ditulis oleh William Shakespeare, pria kelas bawah, yang berasal dari keluarga buta huruf.

Kelompok ini bertanya mengapa sebagian besar karya drama Shakespeare berlatar keluar kelas atas atau bangsawan, dan mengapa kota Stratford-upon-Avon tidak pernah disebut di dalam karya-karya tersebut.

"Bagaimana dia bisa mengetahui kehidupan bangsawan Italia, dan menggambarkan rinciannya dengan akurat?" tambah kelompok itu.

Teori konspirasi tentang penulis karya Shakespeare yang sebenarnya sudah beredar sejak abad ke-18. Berdasarka teori-teori itu, beberapa orang, termasuk penulis drama Christopher Marlowe, bangsawan Edward de Vere dan Francis Bacon dikatakan menggunakan Shakespeare sebagai nama samaran.

"Menurut saya perkiraan terkuat kemungkinan adalah Edward de Vere, karena si penulis menulis tentang pengalamannya, kehidupannya dan sifatnya," kata Sir Derek.

Deklarasi itu, yang diresmikan di Teater Minerva di Chichester, Inggris selatan, juga memuat nama 20 tokoh penting yang pernah meragukan karya Shakespeare, termasuk Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud dan Charlie Chaplin.

'Pertanyaan sah'

Salinan deklarasi ini diserahkan kepada Dr William Leahy, dekan Sastra Inggris di Universita Brunel di London dan penyusun jurusan S2 pertama tentang studi tenang siapa penulis karya Shakespeare, yang akan diluncurkan akhir bulan ini.

"Sejak dua tahun ini saja berjuang untuk memasukkan topik ini ke dalam pembahasan akademisi," kata Dr Leahy.

"Ini adalah pertanyaan sah, karena ada misteri dan pembahasan intelektual akan mendekatkan kita ke inti masalah ini."

"Saya tidak mengatakan kami akan mendapatkan semua jawabannya. Bukan itu intinya. Tentu saja, di situ letak pertanyaannya."

taken from:
http://www.bbc.co.uk

Sastra Indonesia

Sastra Indonesia di Mata Dunia

DALAM pergaulan sastra dunia, sastra Indonesia adalah sebuah terra in cognita, ruang gelap yang tak diketahui dan tidak dikenal. Jika pun ada karya sastra Indonesia yang dikenal dan sempat disebut-sebut dalam pergaulan sastra dunia, semuanya selalu serbaparsial, tidak utuh dan menyeluruh. Karya sastrawan Indonesia di mata dunia selalu pada akhirnya hanya berhenti pada nama itu-itu saja, Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, W.S. Rendra, atau Y.B. Mangunwijaya. Karya mereka pun sebenarnya lebih dikenal hanya di kalangan dunia akademis atau universitas yang (kebetulan) memiliki program kajian bahasa dan sastra Indonesia, ketimbang di publik yang jauh lebih luas.

Dalam sejumlah hal, musababnya bukanlah karena karya sastra Indonesia tidak menarik di mata dunia. Akan tetapi, dalam pergaulan sastra masyarakat internasional, pembacaan atas sebuah karya sastra dari negeri yang asing dan jauh selalu menjadi menarik serta menimbulkan kepenasaranan ketika terdapat sejumlah referensi ihwal perkembangan karya sastra di negeri itu secara lebih menyeluruh sebagai suatu tradisi. Sialnya, inilah yang tidak dimiliki sastra Indonesia, sehingga ia hanya dibaca kalangan terbatas di dunia akademik.

Tak adanya kemauan pemerintah untuk memperkenalkan kebudayaan dan karya sastra Indonesia ke mata dunia, mungkin bisa dijadikan salah satu musababnya. Tak hanya itu, sejumlah dosen dan peneliti sastra Indonesia di negara-negara Eropa, misalnya, sering tak bisa lagi membaca perkembangan sastra Indonesia mutakhir karena Perpustakaan Kedutaan Besar Indonesia sangat langka mengoleksinya. Paling tidak, bahan-bahan yang mereka perlukan sering tidak mencukupi. Musabab lainnya adalah tak ada lembaga yang berkonsentrasi pada penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing. Baik yang dikerjakan lembaga swasta apalagi pemerintah.

Di lain sisi, terdapat juga kenyataan berikutnya mengapa sastra Indonesia di mata dunia sering terbaca sebagai perkembangan yang parsial. Karena Indonesia adalah sebuah terra in cognita, maka sedikit saja ada cahaya penerang langsung mendapat tempat dalam pergaulan sastra dunia seraya mengandaikan bahwa lewat cahaya penerang itulah sastra Indonesia bisa tampak. Tentu saja ini tak salah, paling tidak, ada sedikit celah untuk membaca perkembangan sastra Indonesia. Hanya soalnya kemudian, cahaya penerang itu menganggap dirinya sebagai representasi dari keseluruhan perkembangan sastra Indonesia.

Dengan kata lain, pihak atau komunitas yang memiliki akses untuk masuk ke pergaulan sastra dunia, lewat lobi-lobi mereka yang canggih ke berbagai jaringan lembaga asing dengan isu-isu yang bisa "dijual" (dari mulai hak asasi manusia, pluralisme, hingga demokratisasi), terutama ke lembaga-lembaga jaringan dana internasional, sering memainkan politik citraan bahwa merekalah cahaya penerang bagi mata dunia untuk menatap sastra Indonesia sehingga terjadinya dominasi akses.

Mungkin tak apa, seandainya saja dominasi akses ini tidak dibarengi tendensi yang melulu berpusat pada kepentingan kelompok mereka. Yang kini terjadi adalah ketika akses ini hanya dipakai untuk membawa karya sastra Indonesia ke mata dunia menurut ukuran politik citraan yang mereka mainkan sehingga dalam pergaulan sastra dunia karya para sastrawan yang dikenal selalu hanya terbatas pada mereka yang berada di lingkaran kelompok tersebut. Sedangkan di luar itu sastra Indonesia tetap sebagai terra in cognita. Maka, yang terjadi kemudian adalah pemahaman mata dunia terhadap sastra Indonesia yang tak pernah lengkap sebab hanya berasal dari satu sumber yang mendominasi akses.



DEMIKIAN sejumlah pemikiran yang mengapung dalam seminar Jakarta Internasional Literature Festival (Jilfest) yang berlangsung di Jakarta, 12 Desember 2008. Seminar dalam festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) ini merupakan rangkaian acara dari Jilfest yang berlangsung 11-14 Desember 2008. Festival ini diikuti sastrawan dan pengamat sastra dari Indonesia, Belanda, Swedia, Singapura,Portugal, RRC, dan Korea.

Meskipun tak ada tema tertentu yang dijadikan rujukan, namun festival dan seminar ini berangkat dari semangat melakukan pembacaan kritis ihwal apa dan bagaimana sastra Indonesia di mata dunia, peluang, dan tantangannya. Untuk keperluan itulah pembicara dihadirkan dari berbagai konteks yang berkorelasi ke arah itu; pandangan sejumlah pengamat sastra asing terhadap nasib karya sastra Indonesia di negara mereka, pengalaman sastrawan Indonesia yang karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan politik sastra di Indonesia yang dalam hubungannya dengan politik jaringan untuk "menguasai" akses ke tengah pergaulan sastra dunia lengkap dengan citraan untuk meraih kepercayaan lembaga dana internasional.

Baik sastrawan dan pengamat sastra Djamal Tukimin, M.A. (Singapura) maupun Prof. Dr. Koh Young Hun (Korea) menilai karya sastra Indonesia memiliki peluang besar diterima publik sastra di negara mereka. Termasuk prospek penerbitan karya sastrawan muda Indonesia, seperti yang terjadi di Singapura dengan sambutan yang hangat pada novel Ayat-ayat Cinta (Habbiburahman Shirazi) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

"Padahal, dalam waktu yang bersamaan, karya para pengarang Singapura baru diterima setelah tampak ada peningkatan mutu yang sama dengan karya para pengarang Indonesia, meski karya itu sudah lama diterbitkan. Hal ini menunjukkan memang tren dan pengaruh Indonesia jauh lebih dominan dalam mengutarakan persoalan karena ada revolusi budaya yang agresif," tutur Djamal Tukimin.

Seraya menuturkan bagaimana kuatnya pengaruh sastra Indonesia di Singapura yang telah terjadi sejak 1930-an, Djamal Tukimin mengemukakan sejumlah alasan mengapa karya sastra Indonesia mudah diterima di Singapura. Salah satunya adalah bagaimana sastrawan Indonesia memiliki sikap terbuka pada berbagai pemikiran seni. Ini berbeda dengan sastrawan Melayu yang agak feodal. Jika pun ada di antara mereka yang mulai bergeser, sastrawan Indonesialah yang memberi dan menjadi inspirasi mereka. "Pada awal abad ini masih ada dan masih muncul para sastrawan muda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar di Singapura, walaupun tengah bersaing dengan karya sastra remaja yang ada," ujarnya.

Jika Djamal Tukimin lebih melihat nasib sastra Indonesia di Singapura dalam konteks peluang penerbitan, Koh Young Hun melihat sejumlah celah yang bisa dijadikan peluang bagi sastra Indonesia untuk diterima publik yang lebih luas di Korea sekaligus juga tantangan yang kerap dijumpai selama ini. Seiring dengan mulai diperkenalkannya bahasa Indonesia di perguruan-perguruan tinggi di Korea tahun 1964, kajian terhadap budaya dan sastra Indonesia terus dilakukan. Termasuk ketika Koh Young Hun menerjemahkan sejumlah karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam bahasa Korea. Demikian juga dengan Kim Jang Gyen dan Lee Yeon yang melakukan penelitian karya-karya Mochtar Lubis dan N.H. Dini. Selain itu, berbagai lembaga dan universitas pun kerap mengundang sastrawan Indonesia ke Korea.

Sastra dan bahasa sebagai pintu gerbang untuk mengenal tradisi dan budaya di Indonesia, paling tidak bagi Korea menjadi semacam kebutuhan yang niscaya dalam konteks investasi seperti penanaman modal. "Orang-orang Korea yang ingin menanam modal di Indonesia perlu memahami latar belakang budaya di Indonesia. Tidak sedikit penanaman modal dari Korea yang kurang berhasil gara-gara tidak dipahaminya budaya di negeri ini. Mereka yang cuma membawa modal dan teknologi punya kemungkinan besar gagal," ujar Guru Besar Hankuk University of Foreign Studies Seoul, Korea ini.

Sejumlah kesempatan yang berkaitan dengan perkenalan sastra Indonesia di Korea dapat dikatakan berhasil. Akan tetapi, masyarakat Korea umumnya belum begitu tahu unggulnya khazanah sastra Indonesia. Dengan perkataan lain, khazanah sastra Indonesia memiliki taraf yang tinggi dan berpeluang digemari kalangan pembaca dunia. Oleh karena itu, ia berharap hendaknya pemerintah Indonesia memberi perhatian yang istimewa untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke luar negeri, misalnya, dengan mendirikan lembaga yang menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa-bahasa asing atau menunjang lembaga swasta yang berhubungan dengan itu.



NASIB sastra Indonesia di mata dunia seolah hadir tanpa referensi yang utuh, baik pengenalan (promosi) ihwal tradisi perkembangannya, terlebih lagi tentang kebudayaan Indonesia itu sendiri. Berbeda dengan pengenalan seni pertunjukan tradisi Indonesia yang selalu diboyong pemerintah ke berbagai event di dunia internasional, pemerintah terkesan tidak memandang karya sastra sebagai aset yang perlu dipromosikan. Mata dunia bisa dengan jelas mengenal berbagai seni tradisi pertunjukan Indonesia, bahkan hingga makanannya, tetapi tidak tentang karya sastranya.

Ketidaktahuan masyarakat internasional pada sastra Indonesia inilah yang dengan sedih diceritakan cerpenis dan novelis Putu Wijaya, ketika di Berlin seorang penyair kulit hitam Amerika Serikat bertanya kepadanya, "Apakah di Indonesia ada penyair?"

Putu juga menuturkan pengalamannya yang lain ketika seorang penerbit di Berlin tertarik menerbitkan cerpen-cerpennya. Akan tetapi, penerbit itu mengatakan agar Putu jangan berharap terlalu banyak bahwa karya akan disambut masyarakat di Jerman. "Beberapa karya Pramoedya dan Mangunwijaya sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman, tetapi di pasar tidak bunyi. Itu tidak disebabkan karya-karya mereka tidak menarik, tetapi karena masyarakat Jerman tidak memiliki referensi bahwa di Indonesia ada kehidupan sastra," ujar Putu.

Nasib sastra Indonesia di mata dunia pada bagian lain juga menyimpan fenomena yang lain, ketika akses menuju pergaulan sastra dunia internasional itu dilakukan oleh pihak atau komunitas yang melakukan semacam strategi citraan. Citraan yang diembuskan dikaitkan dengan isu-isu aktual, seperti feminisme, pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi kebudayaan. Dengan strategi citraan inilah, komunitas tersebut bisa merebut simpatik. Inilah politik sastra yang terjadi di Indonesia demi keperluan membangun akses menuju ke pergaulan sastra dunia. Bagian dari strategi citraan ini tampak ketika sebuah karya dinobatkan sebagai representasi dari pembenaran isu yang tengah dimainkan. Yang terjadi kemudian, di tengah minimnya pengenalan terhadap sastra Indonesia, ia dipahami dalam berbagai kejanggalan.

Lewat kajian kritis dan investigasinya yang mendalam terhadap berbagai sumber di Jerman, kritikus sastra Katrin Bandel memaparkan sejumlah permasalahan di balik popularitas Ayu Utami dengan karyanya Saman di Jerman dalam apa yang disebutnya dengan "Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa". Salah satu bagian dari politik itu adalah politik pencitraan Ayu Utami di berbagai media massa Jerman sebagai penulis (perempuan) muda Indonesia berbakat yang berani menulis hal-hal tabu yang sulit diterima masyarakat negaranya yang "kolot" dan "patriakis".

Menurut Katrin, betapa Ayu Utami dan Komunitas Utan Kayu direpresentasikan dengan cara yang begitu tendensius dan menyesatkan di beberapa media Jerman dan negara di Eropa. Maka, lalu muncul semacam pertanyaan, apakah pembaca Eropa begitu mudah tertipu? Pembaca Jerman bebas membentuk pendapatnya sendiri, tetapi kebebasan itu ada batasnya ketika pembaca Jerman tidak mengenal dunia sastra Indonesia.

"Contoh menarik adalah resensi Birgit Kob di radio Jerman Deutschlandradio, 17 Desember 2007. Ia membandingkan novel Saman dengan puzzle yang tidak berhasil diselesaikan dan tidak berbentuk. Namun, kebingungan itu tidak membuatnya berkesimpulan bahwa novel itu kurang berhasil. Akan tetapi, justru dipahaminya sebagai bagian dari pengalaman baca sebagai pembaca Barat yang berhadapan dengan karya asing. Maka, kalau Saman dipilih di antara sekian banyak karya sastra Indonesia untuk disuguhkan pada pembaca Jerman, wajar kalau cara bercerita ala Saman-lah yang akan dianggap pembaca Jerman sebagai cara bercerita ’khas Indonesia’," ucap Katrin Bandel. (Ahda Imran)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 13 Desember 2008
Taken from:
http://cabiklunik.blogspot.com

Saturday, 21 February 2009

2500 bahasa di dunia terancam punah

Anda tahu, dunia telah kehilangan bahasa Ubykh di Turki dan tahun lalu bahasa Eyak yang dipakai di Alaska juga juga punah, setelah wanita yang bisa menggunakannya Marie Smith Jones meninggal dunia.

Seperti dikutip AFP, Jumat (20/2/2009), dari 6.900 bahasa di dunia, 2.500 diantaranya berada dalam bahaya kepunahan. Hal ini seperti tercantum dalam data badan dunia PBB Unesco.

Jumlah ini semakin meningkat, dari data 2001 lalu di mana tercatat ada 900 bahasa yang terancam hilang.

Dan berdasarkan data terbaru, saat ini ada 199 bahasa di dunia yang dikuasai kurang dari selusin orang, antara lain bahasa Karaim yang hanya digunakan oleh 6 orang di Ukraina, dan bahasa Wichita hanya digunakan 10 orang di negara bagian AS, Oklahoma.

Nah, mungkin ini yang cukup mengkhawatirkan, bahasa Lengilu hanya digunakan oleh 4 orang aja di Indonesia.

Harapan sedikit ada untuk 178 bahasa yang lain, mereka digunakan oleh 10 sampai 150 orang.

Memang hampir 200 bahasa, mengalami kepunahan setelah 3 generasi, misalnya saja bahasa Ubykh yang punah pada 1992 ketika orang yang menguasainya Tefvic Esenc meninggal, lalu bahasa Aasax di Tanzania pada 1976.

Berdasarkan catatan, India berada di peringkat atas jumlah total bahasa yang terancam punah di negeri itu ada 196 bahasa yang masuk daftar, diikuti Amerika Serikat 192, dan Indonesia di peringkat ketiga dengan 147.